Senin, 06 Jul 2020, 14:05:30 WIB, 110 View KKN BBM Unair62 227, Kategori : KKN-BBM 62 Universitas Airlangga

COVID-19, atau yang seringkali disebut dengan Coronavirus, telah menyandang status sebagai pandemi yang menjadi momok bagi sebagian besar orang di seluruh dunia. Status Coronavirus sebagai penyakit yang menyerang di seluruh dunia, menyebabkan banyaknya informasi yang masuk tanpa adanya sumber yang jelas. Disini, penulis akan menuliskan fakta dari beberapa berita hoax yang tersebar di lingkungan sekitar kita.

1.      Orang obesitas lebih beresiko COVID-19?

Situs web National Health Service atau NHS mengatakan bahwa orang berisiko tinggi setelah tertular virus korona jika mereka "sangat gemuk (IMT 40 atau lebih)" dan bahwa orang-orang ini hanya boleh meninggalkan rumah mereka jika perlu membeli makanan dan obat-obatan.

2.      Coronavirus mempengaruhi pria dan wanita secara berbeda?

Baik Organisasi Kesehatan Dunia maupun situs web NHS tidak memiliki informasi tentang apakah COVID-19 mempengaruhi pria dan wanita secara berbeda. Namun, pengalaman dan bukti sejauh ini memberitahu kita bahwa seks dan gender adalah pendorong penting risiko dan respons terhadap infeksi dan penyakit.

3.      Apakah pasien berakhir dengan fungsi paru-paru yang buruk setelah COVID-19?

Direktur medis Otoritas Rumah Sakit Hong Kong melaporkan bahwa pasien akan terengah-engah jika mereka berjalan sedikit lebih cepat dan bahwa beberapa pasien mungkin memiliki sekitar 20 hingga 30% fungsi paru-paru setelah pemulihan penuh. Disarankan agar pasien dapat melakukan latihan kardiovaskular untuk meningkatkan kapasitas paru-paru mereka dari waktu ke waktu. Hal tersebut merupakan efek jangka pendek, WHO sendiri belum mengetahui efek jangka panjang bagi pasien yang pernah menderita COVID-19.

4.      Apakah perokok lebih mungkin tertular virus corona?

WHO mengatakan: “Perokok cenderung lebih rentan terhadap COVID-19 karena tindakan merokok berarti jari (dan kemungkinan rokok yang terkontaminasi) bersentuhan dengan bibir yang meningkatkan kemungkinan penularan virus dari tangan ke mulut. Perokok mungkin juga sudah memiliki penyakit paru-paru atau kapasitas paru-paru yang berkurang yang akan sangat meningkatkan risiko penyakit serius.

5.      Apakah Anda berisiko terkena coronavirus dari penanganan pengiriman di rumah?

WHO mengatakan bahwa ada kemungkinan kecil barang-barang komersial terkontaminasi oleh orang yang terinfeksi dan atau menghilangkan virus dari paket yang telah dipindahkan, bepergian, dan terpapar pada kondisi dan suhu yang berbeda. CDC AS memberikan pernyataan yang sama, mengatakan bahwa risiko dari paket yang telah dikirim selama beberapa hari atau minggu cenderung rendah.

6.      Berkumur dan membilas hidung dengan air garam dapat mengobati gejala awal COVID-19?

Membilas lubang hidung dan berkumur dengan air garam memang telah digunakan oleh beberapa orang sebagai cara mengobati gejala flu selama bertahun-tahun. Namun cara tersebut tidak dianjurkan untuk mencegah terjangkit COVID-19 atau menghentikan gejala-gejala awal virus tersebut. Mengutip TH Chan dari Pusat Penelitian Kesehatan Masyarakat Sekolah Kesehatan India, “Tidak ada bukti bahwa berkumur secara rutin dengan air garam akan melindungi orang dari infeksi Coronavirus. Meskipun ini dapat membantu meredakan sakit tenggorokan, praktik ini tidak akan mencegah virus masuk paru-paru Anda."

7.      Social Distancing: Berapa jarak aman untuk mencegah penularan COVID-19?

WHO telah melakukan penelitian, dan menemukan bahwa resiko penularan 82% lebih rendah apabila seseorang memberi jarak dengan orang lainnya yang ada di sekitarnya paling sedikit 1 meter. Risiko akan semakin rendah nilainya apabila seseorang memberi jarak yang lebih jauh dari 1 meter. Saran Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) juga  menyarankan jarak 6 kaki (sekitar 1,8 meter). Sehingga WHO merekomendasikan untuk tetap terpisah setidaknya 1 meter.

8.      Anak-anak lebih kecil kemungkinannya untuk tertular COVID-19 dibandingkan orang dewasa?

Penulis utama dan Profesor Kesehatan Anak, Russell Viner, melaporkan bahwa orang muda yang berusia di bawah 18-20 lebih kecil kemungkinannya terkena COVID-19 dibandingkan orang dewasa di atas usia ini. Anak-anak dan remaja dipahami lebih kecil kemungkinannya terkena infeksi parah. Hal tersebut yang menyebabkan adanya anggapan bahwa anak kecil dan remaja memiliki resiko lebih kecil dalam terjangkit COVID-19. Meskipun begitu, WHO tetap menekankan bahwa COVID-19 tidak memandang umur dan ras. Setiap orang dapat terjangkit virus ini. Sehingga disarankan untuk tetao melakukan social distancing dengan jarak sekurang-kurangnya 1 meter.

Referensi:

COVID-19 Facts. 2020. Facts [online] dalam https://www.covid-19facts.com/?page_id=82920 (Diakses pada 5 Juli 2020).





Tuliskan Komentar